Change for a New Year can be started with simple things …

Hi friends,

Good Morning. This time we just start our 2019 in almost 25 days. Biasanya para profesional memasuki tahun baru dengan semangat baru dam resolusi baru. Bagaimana dengan anda dan organisasi anda ? Yah, saya pikir kita semua harus memiliki sebuah semangat baru dan janji untuk bertarung lebih keras lagi di tahun 2019. Why ? karena seperti kita ketahui kini kita hidup di Age of Disruption. Sebuah masa dimana kompetisi menjadi begitu ketat dengan masuknya pemain pemain baru, dengan cara baru, yang mengguncang bukan hanya perusahaan dalam sebuah kategori bisnis. Bahkan cara2 baru tersebut akan mengeliminasi sebuah kategori produk, karena dianggap sudah ketinggalan fungsi. Driversnya ? Teknologi dan Internet…. siapa yang mengira dahulu bahwa hampir semua fungsi bank dapat digantikan hanya dengan segenggam handphone…

Dengan semua disruption yang kita alami kini, bagaimana peran tenaga kerja dalam sebuah organisasi ? apakah makin kecil peranannya dan dapat digantikan sepenuhnya oleh data Alghorytm, Internet of Things, Artificial Intelegence dll ? ya, beberapa sebagian besar fungsi clerical dan analysis based calculation sudah dapat digantikan perannya oleh teknologi. Namun satu hal yang masih menjadi milik manusia yang belum sepenuhnya tergantikan, yakni Creativity, Innovation dan Kemampuan untuk menimbulkan Kejutan. Ya, Inilah sisi kanan otak manusia yang harus digali untuk dapat memberikan kejutan2 baru kepada pengguna produk kita.

Karena itu penting bagi sebuah organisasi untuk memiliki personel2 yang kreatif, inovatif, serta mampu melihat opportunity ke depan yang timbul sebagai akibat perubahan jaman ini. Dan untuk saat ini maka pasokan karyawan seperti itu dicirikan dengan hadirnya kelompok usia milenial. Mau tidak mau maka berbagai aspek dalam pengelolaan organisasi harus bisa menyesuaikan ciri 2 kaum milenial tanpa meninggalkan tujuan pokok organisasi.

Adalah suatu seni tersendiri untuk menyesuaikan kebutuhan personel milenial sementara kita berada dalam organisasi yang sebagian gaya pengelolaan organisasi masih bergaya baby boomers. Nah, bagaimana jika jika kita sebagai seorang pemimpin yang berasal dari generasi baby boomers harus menghadapi perubahan kelompok usia personel organisasi yang milenials ?

First of all, pelajari perbedaan cara meraih tujuan hidup antara kita dan mereka. Saya yakin semua kelompok usia untuk menggapai “Hidup Bahagia”, hanya saja definisi “Bahagia” itu mungkin berbeda persepsinya, yang mengakibatkan berbeda pula cara meraihnya. ada yang bahagia jika bisa sering travelling , ada yang bahagia jika menambah koleksi gagdet misalnya. It is fine.

Yang penting tugas kita adalah menyediakan ambience dan wadah yang pas untuk personel milenials di organisasi kita. Salah satunya adalah perubahan wajah office. Office Space jaman saya dulu mulai bekerja tahun 1992 sungguh berbeda dengan smart office yang kita jumpai sekarang. sekarang ruang2 kerja makin smooth flowing dan makin informal. sebelum krisi moneter 1998 maka dasi adalah simbol jika anda sudah masuk grade menajerial. Kini semua lebih infromal, dipengaruhi gaya2 kerja perusahaan start up digital.

Kini saya mau sharing sedikit cerita dari kantor kami.

Beberapa waktu yang lalu di kantor kami diadakan sedikit perubahan tema ruang2 meeting dan office. Menariknya, walau belum semuanya rampung namun reaksi teman2 sungguh menarik. demikian bersemangat mereka dan tanpa dikomando mereka mengupload ambience baru tersebut ke sosmed pribadi mereka. Bagi saya upload semacam itu adalah ungkapan rasa senang yang genuine dengan suasana baru ini. Terlihat aura positif dan wajah2 cerah dengan suasana ambience kantor yang berbeda. Semoga dengan perubahan ambience ini maka semangat kerja juga akan naik di tahun 2019. untuk menghadapi persaingan yang lebih menantang lagi.

So, message dari tulisan ini adalah : Kita dapat melakukan perubahan mood personel salah satunya dengan mengubah ambience office space kita, sehingga akan menghasilkan kinerja positif tentunya.

Apalagi jika kita juga mentrigger driver2 yang lain ? nah, yuuk mari kita mulai berbuat untuk perubahan positif. Mulai sari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai saat ini…

Selamat berkarya !!

Create a Story for a City : How The Beatles and Liverpool FC can build tourism (part 1)

Selamat pagi ….

Kunjungan saya ke Liverpool belum lama berselang telah membawa kesan tersendiri bagaimana industri pariwisata suatu kota dibangun berdasarkan narasi dari sebuah Klub Sepakbola dan Pop Band legendaris. Ya, dua hal tersebut telah membuat magnet tersendiri untuk Liverpool, kota di Barat laut Inggris. Sedemikian pentingnya sehingga Bandara di kota Liverpool pun dinamakan “Liverpool John Lennon Airport”. Sampai saat ini baru di Liverpool lah sebuah airport diberi ijin untuk ditabalkan dengan nama tokoh, karena umumnya di Inggris nama Airport seturut nama lokasi, seperti London Heathrow, London Gatwick dan sebagainya.

Liverpool bukanlah kota terbesar setelah London. Peringkat itu dimiliki oleh tetangga dan rivalnya yang berjarak 60 km dari sana, yakni kota Manchester. Keduanya sama-sama memiliki Klub Sepakbola yang kuat sehingga pertemuan keduanya kerap disebut sebagai Derby of England. Bedanya, dalam 20 tahun terakhir Manchester United telah mengkoleksi 13 gelar Premier League, sementara Liverpool FC menjuarai Premier Leaguenya terkahir asdalah 29 tahun yang lalu. Betapapun, Liverpool FC memiliki penggemar yang fanatik diberbagai belahan dunia, yang dengan antusias setiap tahun berharap timnya menjuarai Premier League. Salah satu slogan dari para fans LFC yang menunjukkan kesetiaan mereka adalah “Passion Beyond Reason”

Kembali ke kota Liverpool. Kita bisa melihat bahwa sebagian besar penduduk kota tersebut, khususnya para pria, memang menggemari sepakbola. Bahkan mereka umumnya adalah pendukung fanatik jika tidak Liverpool FC ya Everton FC. tak heran pertanyaan “Which Club are you?” menjadi pertanyaan biasa untuk membuka percakapan dengan supir taksi atau penjaga toko. Ada kejadian lucu, dimana ketika saya bertanya “Which Club you are?” kepada penjaga tempat kami bermalam maka dengan ekspresi serius dia menggulung lengan bajunya seraya memperlihatkan…. tatoo logo Everton FC.

Liverpool sungguh beruntung memiliki 2 icons turisme yakni The Beatles dan Klub Sepakbola Liverpool FC. Maaf, untuk sementara kita tidak menghitung Everton FC karena mostly turis datang ke Liverpool untuk melihat dua obyek tersebut. Hanpir 1 juta turis dari manca negara setiap tahun mengunjungi Liverpool. Jumlah ini setara dengan sepertiga umat muslim yang menjadi jemaah haji di dunia setiap tahunnya .

Diantara dua obyek turisme tersebut maka Klub Liverpool FC adalah yang masih aktif. Artinya klub tersebut masih bertarung di kasta sepakbola tertinggi di Inggris dan sampai saat ini masih menjadi salah satu klub terkemuka di dunia. Bagi penggemar klub tersebut maka berkunjung ke stadion Anfield ibarat kita pergi umroh ke tanah suci. A wish list !. Karena itu minggu lalu saat saya berkunjung kesana menjadi pengalaman tersendiri yang sangat bermakna.

img_5577

Kita harus membeli tiket untuk ikut stadium tour Anfield ini sejak di tanah air khususnya pada waktu peak season. Why ? karena jumlah kunjungan untuk setiap shift dibatasi guna kenyamanan peserta tour. Biasanya satu shift sekitar 30 sd 40 orang. dan dalam satu hari kunjungan dibuka mulai jam 10.00 pagi sd 16.00 setiap 30 menit. Tiketnya seharga 20 pounds. Untuk satu shift disediakan 2 orang tour guide yang menjelaskan bagian awal setiap segmen tour, sedangkan detail tiap segmen dapat kita dengarkan melalui Audio Self Guide Set yang dipinjamkan dipintu masuk. Yang membanggakan saya adalah ternyata Audio Self Guide Set tersebut terdiri dari 9 bahasa saja, dan.. salah satunya adalah Bahasa Indonesia. Ya… Bahasa Indonesia. Duh bangganya hati ini sebagai fans Liverpool FC. Kita jadi makin cinta. Kalau anda ikut Stadium Tour MU di Old TRafford anda hanya akan ditemani seorang guide yang berbicara dalam bahasa inggris tanpa Audio Self Guide Set. Jadi stadium tour di Anfield ternyata lebih canggih daripada di Old Trafford. 1 – 0 untuk Anfield.

img_5453

img_5450

Tour dimulai dari bagian luar stadion dan masuk makin ke dalam. Kita bisa melihat ruang kantin, ruang ganti pemain. Tunnel terkenal yang bisa kita lihat di youtube channel “Inside Anfield” dengan tulisan “This Is Anfield” yang kita bisa sentuh, serta diakhiri dengan sessi melihat lapangan. Salah satu yang membuat saya kagum adalah bagaimaan mereka memperlakukan rumput di Anfield. Karena bulan Desember adalah musim dingin (winter) sedangkan matahari amat jarang menampakakan diri di tanah Inggris maka dibuatkan mesin2 penghasil sinar UV untuk menyinari rumput2 stadion Anfield setiap hari, sehingga saat pertandingan rumput2 tersebut akan tetap hijau dan segar sebagaimana kita lihat di layar TV. Gambar mesin UV itu ada di belakang tempat saya berdiri. Nah, uniknya lagi… mereka juga menyediakan wadah bekas potongan rumput sehingga para penggemar yang sangat fanatik dapat antre untuk membawa potongan rumput itu pulang ke rumah. Saya juga iseng2 bawa sekantong plastik. Sampai hari ini setelah 7 hari ternyata warnanya masih hijau lho… belum jadi cokelat… mungkin rumput Anfield diberi vitamin2 tertentu supaya lebih long lasting daunnya.

img_5564

img_5571img_5569

Jika ingin maka kita bisa berkunjung ke museum Liverpool FC yang ada di stadion juga. Disini kita akan disuguhi perjalanan klub LIverpool beserta bintang2 yang kita kenal sejak kecil seperti Ian Rush, John Barnes dll. Dan akhirnya kita diarahkan untuk menuju Merchadise Store dimana kita dapat belanja pernik-pernik Liverpool FC sepuasnya. Sungguh suatu Stadium Tour yang menarik dan terstruktur.

Selain itu dalam Stadium tour tersebut kita berkesempatan membuat foto dengan replika Piala Champions yang hasilnya dapat dicetak dan dibawa pulang sebagai kenangan dari Anfield. Menarik bukan ? keseluruhan Stadium Tour Anfield memakan waktu kira-kira 2 jam. Hmm… menarik juga membayangkan jika suatu ketika Persija atau Persib punya Stadion yang canggih sehingga bisa dibuatkan Stadium Tour.

IMG_5477.JPG

Nah, sekian dulu cerita tentang Liverpool FC. Untuk cerita tentang bagaimana kontribusi The Beatles terhadap turisme kota Liverpool maka akan kami lanjutkan sesudah ini.

Thank you

London @end of Year 2018

Hi !

Ini adalah tulisan pertama dalam Blog saya. Sesusngguhnya sudah setahun saya memiliki Blog ini namun baru pada wal tahun 2019 saya tergerak untuk mendokumentasikan pemikiran saya dalam sebuah Blog.

Akhir tahun 2018 kami sekeluarga berkunjung ke Inggris, tepatnya ke kota London, Manchester, dan Liverpool. Berkunjung ke Inggris membawa beberapa kesan untuk diri saya yang akan saya bagi dalam tulisan ini.

Pertama, Inggris adalah negeri dengan sejarah yang sangat tua dan memiliki jejak sejarah yang terdokumentasi dengan baik. Mungkin hal ini disebabkan sistem monarki Inggris yang berlangsung tak terputus sejak abad 8 sampai saat ini. Sebagai contoh, beberapa Bangunan di Tower of London dibangun sejak tahun 1100 M (era dimana Perang Salib masih berlangsung) dan tetap terawat dengan baik sampai sekarang. Bangunan2 tua seperti Tower of London, Tower Bridge, Bridge of London, dan Kastil2 lainnya kini menjadi beberapa tujuan pariwisata. Menyaksikan bahwa bangunan2 tersebut sudah ada sejak hampir 1000 tahun yang lalu tentu menimbulkan kekaguman tersendiri.

Kedua, Inggris adalah negeri yang betul2 memperhatikan arsitektur bangunan2 sehingga terjadi keharmonisan yang enak dipandang. Contohnya, jika di suatu area terdapat jenis2 pemukiman yang bergaya victorian, maka kompleks perumahan baru akan dibangun dengan tampak luar yang mengadopsi desain serupa, sehingga pandangan mata akan menjadi teratur. Akhirnya terjadi segmentasi wilayah antara bangunan2 yang didesain bergaya klasik dan bergaya modern. Itulah sebabnya di daerah Picadilly di pusat kota london misalnya, walau bertebaran toko2 dengan brand2 highclass namun mereka menyesuaikan desain muak tokonya dengan lingkungan sekitar.

Ketiga, London sebagai sebuah kota internasional tentu dihuni oleh berbagai manusia dari berbagai ras. Menariknya, walau mereka berasal dari ras yang berbeda namun mereka memiliki tata cara yang hampir sama terutama dalam melayani wisatawan. Alhasil, they do it like Londoners themselves. Hal ini menimbulkan pemikiran pada kami bahwa “common shared value” adalah sesuatu yang sangat penting untuk dijiwai oleh setiap penduduk di suatu kota atau wilayah. Artinya, dari manapun anda berasal maka begitu anda tinggal di kota tersebut maka seketika itu anda harus sepakat menggunakan tata nilai yang lazim ada di kota tersebut.

Saya pikir ini adalah hal yang juga harusnya lebih dikembangkan lagi di Indonesia kita. Dimana kita telah memiliki Pancasila sebagai Life Guiding Value.

Namun sayangnya perangkat implementasi dari Pancasila sebagai Guiding Value belum terbentuk dengan baik. Dulu dijaman Order Baru kita memiliki Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dimana P4 ini dikursuskan dan diindoktrinasi kepada seluruh warga negara dalam berbagai tingkatan. Suka atau tidak maka itulah Perangkat Implementasi Pancasila saat itu.

Sayangnya setelah Reformasi tiba tahun 1998 maka P4 dihapuskan, UUD 45 diamandemen, dan tidak ada GBHN, sehingga Pemerintah hilang arah dan adpat berganti arah setiap 5 tahun. Akibatnya krisis identitas bangsa mulai mencuat di general jaman NOW di tengah gempuran budaya global. Bangsa kita gamang dan sampai saat ini masih mencari bentuk menjawab berbagai ideologi global yang saling berbeda dan merasuk secara bersamaan ke negeri ini melalui jalur offline dan online.

Beberapa waktu yang lalu telah dibentu Badan Pengembangan Ideologi Pancasila (BPIP) untuk menggalakkan lagi ideologi Pancasila ke masyarakat. Sayangnya sebahagian anggota BPIP masih aktif sebagai pengurus partai politik sehingga tampaknya mereka masih sibuk menghadapi tahun 2019 sebagai tahun politik.

Semoga ke depan bangsa ini mempunyai petunjuk pelaksanaan Pancasila sebagai Life Guiding Value dan Common Shared Value. sehingga setiap orang akan mempunyai kesamaan berperilaku ditengah perbedaan nilai hidup. Bhinneka Tunggal Ika.

Jakarta, 7 Januari 2019

img_5211img_5030